BERIMAN
Iman menjadi dasar landasan yang kuat bagi orang untuk tetap berbesar hati dan optimis. Iman bahkan mendatangkan tindakan kasih Allah. Dengan demikian, iman bukanlah soal perasaan, melainkan soal tindakan dan hidup. Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya Deus Caritas Est (DCE no. 39) mengatakan, "Iman, pengendapan kasih Allah yang nampak dalam hati Yesus yang tertembus di salib, pada gilirannya menciptakan kasih. Kasih adalah cahaya - pada akhirnya satu-satunya - yang setiap kali menerangi dunia yang gelap dan memberi kepada kita keberanian untuk tetap hidup dan bergerak."
Dua kisah mukjizat pada hari ini membantu kita untuk melihat betapa iman itu memiliki kekuatan dahsyat. Iman itulah yang menggerakan Allah untuk menunjukkan kasih-Nya. Kepala rumah ibadat itu sudah tahu bahwa anaknya telah meninggal. Namun ia percaya akan kuasa kasih Yesus. la yakin bahwa Yesus dapat mengembafikan hidup anaknya. Dan hal itu memang terjadi. Yesus memegang tangan anak itu dan membangkitkan dia.
Sedangkan seorang ibu yang sudah 12 tahun lamanya menderita sakit pendarahan juga memiliki iman yang luar biasa. la yakin bahwa dengan menjamahjubah Yesus, dirinya akan sembuh. Dan hal itu memang terjadi. Yesus meneguhkan iman ibu itu, dan dengan penuh kasih, la berkata, "Teguhkanlah hatimu, hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau."
Bagaimana dengan kita? Mukjizat sudah dan sedang terjadi ketika kita hidup dan bertindak dalam iman. lman sebagai tindakan penyerahan dan kepasrahan kita kepada Allah, mendatangkan tindakan kasih dari Allah sendiri. Allah yang adalah kasih bisa berbuat apa saja bagi kita yang mau percaya. Sanggupkah kita beriman? Maukah kita percaya? Mukjizat itu nyata. Itulah wujud kasih Tuhan bagi mereka yang mengharapkan segalanya dari Allah semata. Hanya Allah sudah cukup.
"Bapa yang kekal, syukur karena Engkau begitu mencintai kami. Aneka karunia Kau berikan pada kami. Maka tambahkanlah iman kami, agar kami mampu melihat kebesaran-Mu dalam setiap peristiwa hidup yang kami alami. Amin". (Buy)
Tuesday, February 17, 2009
Sunday, February 15, 2009
BAHAN RENUNGAN HARI KE-6
MENCARI KELEGAAN
Seorang pastor mengasuh sebuah Panti Asuhan. la sering mengemis di restoran-restoran, di kota tempat tinggalnya, demi kelangsungan hidup panti asuhan itu.
Pada suatu hari ketika ia sedang mengemis di sebuah restoran, seorang pengunjung restoran yang merasa terganggu, mengucapkan kata-kata kasar dan meludahi wajah pastor itu. Pastor mengambil sapu tangan dari saku jubahnya, mengusap air ludah dari wajahnya, dan dengan sangat ramah ia berkata dengan tulus, "Terima kasih. Ludah itu untuk saya, barangkali ada sesuatu untuk anak yatim piatu di panti asuhanku?"
Orang itu tersentak dengan ucapan pastor itu. la merasa malu dan kemudian menyerahkan seluruh isi dompetnya. la menyadari beban berat yang dideritanya selama ini. Kelembutan pastortelah mengalahkan kekerasan hatinya.
Pada zaman sekarang kesibukan manusia semakin meningkat. Beban dari setiap permasalahan membuat otak terus bekerja tiada henti. Tekanan demi tekanan datang pada setiap manusia. Akibatnya, hati menjadi keras, mudah tersinggung, marah dan tidak bisa berpikir denganjernih.
Hari ini Yesus mau melepaskan beban berat kita. la memberikan kelegaan hati kepada semua orang yang datang kepada-Nya. "Belajarlah dari pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, maka hatimu akan mendapatkan ketenangan” (Ay. 29).
Kita tentu pernah jenuh, penat dan berbeban berat dalam hidup ini. Kita mencari hiburan, entah rekreasi, olah raga, jalanjalan, atau sekedar nonton TV atau DVD di rumah. Namun, aneka hiburan dari dunia ini hanya membuat kita tenang sesaat saja. Setelah itu beban berat akan datang kembali. Tidak ada yang dapat memberi kelepasan yang kekal selain Tuhan Yesus.
Tiap saat kita memerlukan kekuatan baru untuk menghadapi setiap masalah. Pastor dalam cerita tadi telah mendapatkan kekuatan sekaligus kelembutan hati Tuhan. la mencintai yatim piatu sekaligus orang yang telah meludahinya. Tindakannya telah mengubah kerasnya hati orang menjadi lembut penuh belas kasihan. Anda dan saya pun juga mampu melakukannya. (Wan)
Seorang pastor mengasuh sebuah Panti Asuhan. la sering mengemis di restoran-restoran, di kota tempat tinggalnya, demi kelangsungan hidup panti asuhan itu.
Pada suatu hari ketika ia sedang mengemis di sebuah restoran, seorang pengunjung restoran yang merasa terganggu, mengucapkan kata-kata kasar dan meludahi wajah pastor itu. Pastor mengambil sapu tangan dari saku jubahnya, mengusap air ludah dari wajahnya, dan dengan sangat ramah ia berkata dengan tulus, "Terima kasih. Ludah itu untuk saya, barangkali ada sesuatu untuk anak yatim piatu di panti asuhanku?"
Orang itu tersentak dengan ucapan pastor itu. la merasa malu dan kemudian menyerahkan seluruh isi dompetnya. la menyadari beban berat yang dideritanya selama ini. Kelembutan pastortelah mengalahkan kekerasan hatinya.
Pada zaman sekarang kesibukan manusia semakin meningkat. Beban dari setiap permasalahan membuat otak terus bekerja tiada henti. Tekanan demi tekanan datang pada setiap manusia. Akibatnya, hati menjadi keras, mudah tersinggung, marah dan tidak bisa berpikir denganjernih.
Hari ini Yesus mau melepaskan beban berat kita. la memberikan kelegaan hati kepada semua orang yang datang kepada-Nya. "Belajarlah dari pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, maka hatimu akan mendapatkan ketenangan” (Ay. 29).
Kita tentu pernah jenuh, penat dan berbeban berat dalam hidup ini. Kita mencari hiburan, entah rekreasi, olah raga, jalanjalan, atau sekedar nonton TV atau DVD di rumah. Namun, aneka hiburan dari dunia ini hanya membuat kita tenang sesaat saja. Setelah itu beban berat akan datang kembali. Tidak ada yang dapat memberi kelepasan yang kekal selain Tuhan Yesus.
Tiap saat kita memerlukan kekuatan baru untuk menghadapi setiap masalah. Pastor dalam cerita tadi telah mendapatkan kekuatan sekaligus kelembutan hati Tuhan. la mencintai yatim piatu sekaligus orang yang telah meludahinya. Tindakannya telah mengubah kerasnya hati orang menjadi lembut penuh belas kasihan. Anda dan saya pun juga mampu melakukannya. (Wan)
Saturday, February 14, 2009
BAHAN RENUNGAN HARI KE-5
MENYATUKAN DIRI
Televisi sudah merambah ke mana-mana. Hampir di setiap rumah televisi hadir sebagai tontonan baik untuk anakanak maupun orang dewasa. Televisi telah menjadi alternatif pilihan hiburan masyarakat. Televisi bukan lagi barang mewah seperti zaman dulu. Semua orang bisa membelinya.
Tontonan di layar kaca kadangkala menjadi tuntunan bagi sebagian kalangan. Ironisnya menjadi tren dan akhirnya menjadi gaya hidup, mulai dari tutur kata, cara berpakaian, bahkan sampai hal-hal yang melampaui batas. Inilah fenomena kehidupan modern. Era globalisasi memberikan dampak yang sangat besar bagi peradaban. Ada yang positif, ada yang negatif. Bagaimana menyikapinya? Bagaimana dengan generasi muda kita? Salah satu solusinya adalah memberikan perhatian serius pada mereka. Generasi muda membutuhkan kedekatan relasi dengan orang tua.
Demikian halnya dengan kita umat beriman. Yesus selalu ingin dekat dengan para muridnya. la mendampingi dan menguatkan bila kita mengalami cobaan. Matius menggambarkan kedekatan kita dengan Yesus ini dengan tidak perlu berpuasa.
Puasa seringkali diartikan sebagai laku tapa dan silih terhadap segala dosa. Dan dosa berarti putusnya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Maka untuk menyatukan kembali hubungan itu, kita mesti puasa dan matiraga. Sebaliknya, bila hubungan dengan Tuhan sangat akrab maka kita pun tidak perlu berpuasa. Sikap ini menjadi gambaran relasi dalam keluarga. Dalam keluarga ideal ada hubungan yang akrab satu sama lain. Keluarga menjadi pilar dalam membentengi anak-anak terhadap pengaruh lingkungan. Keluarga diharapkan menjadi komunitas yang kritis dalam menyikapi tayangan televisi yang banyak memberikan dampak negatif pada anak-anak.
Bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah menciptakan hubungan yang dekat bersama anak-anak? Perhatian dan kedekatan akan mempermudah mengarahkan mereka pada jalan yang baik dan benar. Mari kita puasa dan mati raga dengan mengalahkan egoisme. Dan dengan lebih memperhatikan dan mencintai keluarga, niscaya kita akan selamat, sehat dan bahagia. (Wap)
Televisi sudah merambah ke mana-mana. Hampir di setiap rumah televisi hadir sebagai tontonan baik untuk anakanak maupun orang dewasa. Televisi telah menjadi alternatif pilihan hiburan masyarakat. Televisi bukan lagi barang mewah seperti zaman dulu. Semua orang bisa membelinya.
Tontonan di layar kaca kadangkala menjadi tuntunan bagi sebagian kalangan. Ironisnya menjadi tren dan akhirnya menjadi gaya hidup, mulai dari tutur kata, cara berpakaian, bahkan sampai hal-hal yang melampaui batas. Inilah fenomena kehidupan modern. Era globalisasi memberikan dampak yang sangat besar bagi peradaban. Ada yang positif, ada yang negatif. Bagaimana menyikapinya? Bagaimana dengan generasi muda kita? Salah satu solusinya adalah memberikan perhatian serius pada mereka. Generasi muda membutuhkan kedekatan relasi dengan orang tua.
Demikian halnya dengan kita umat beriman. Yesus selalu ingin dekat dengan para muridnya. la mendampingi dan menguatkan bila kita mengalami cobaan. Matius menggambarkan kedekatan kita dengan Yesus ini dengan tidak perlu berpuasa.
Puasa seringkali diartikan sebagai laku tapa dan silih terhadap segala dosa. Dan dosa berarti putusnya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Maka untuk menyatukan kembali hubungan itu, kita mesti puasa dan matiraga. Sebaliknya, bila hubungan dengan Tuhan sangat akrab maka kita pun tidak perlu berpuasa. Sikap ini menjadi gambaran relasi dalam keluarga. Dalam keluarga ideal ada hubungan yang akrab satu sama lain. Keluarga menjadi pilar dalam membentengi anak-anak terhadap pengaruh lingkungan. Keluarga diharapkan menjadi komunitas yang kritis dalam menyikapi tayangan televisi yang banyak memberikan dampak negatif pada anak-anak.
Bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah menciptakan hubungan yang dekat bersama anak-anak? Perhatian dan kedekatan akan mempermudah mengarahkan mereka pada jalan yang baik dan benar. Mari kita puasa dan mati raga dengan mengalahkan egoisme. Dan dengan lebih memperhatikan dan mencintai keluarga, niscaya kita akan selamat, sehat dan bahagia. (Wap)
Thursday, February 12, 2009
BAHAN RENUNGAN HARI KE-4
WAKTU BERSAMA YESUS
Televisi rupanya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Hampir setiap rumah mempunyai televisi. Televisi memang menjadi salah satu hiburan yang paling mudah kita peroleh. Banyak waktu kita habiskan dengan menonton televisi. Menurut survei, rata-rata orang Inggris menghabiskan sepertiga waktu terjaganya untuk nonton televisi. Orang Amerika dua kali lipat dari itu (John Storey 2007:11). Berapakah waktu yang Anda habiskan untuk menonton televisi? Anda bisa menghitungnya sendiri.
Menonton televisi bukanlah hal yang negatif. Banyak informasi dan pengetahuan dapat kita peroleh melalui tayangan televisi. Yang menjadi masalah adalah banyaknya waktu yang kita habiskan hanya untuk menonton acara-acara televisi. Seringkali lebih banyak waktu kita habiskan di depan televisi dari pada untuk melakukan hal yang lebih penting, seperti: bekerja, belajar, atau berdoa.
Dalam Injil hari ini kita mengenal pribadi Yesus yang mau bergaul dengan para pemungut cukai dan orang berdosa. la mau meluangkan waktu bagi orang berdosa agar mereka lebih mengenal-Nya, bertobat dan percaya kepada-Nya. la memang datang untuk memanggil orang berdosa (bdk. Mat 9:13). Panggilan ini ditanggapi oleh para pemungut cukai dan orang berdosa dengan datang kepada-Nya dan meluangkan waktu bergaul bersama-Nya. Pergaulan bersama Yesus mampu mengubah hidup mereka.
Yesus pun datang kepada kita orang berdosa. la menghendaki agar kita mengenal-Nya dan mau diubah oleh-Nya. Sayangnya, kita sering kurang menyediakan waktu untuk bergaul bersama Yesus dalam doa. Kita lebih senang menghabiskan banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk berdoa. Hari ini Yesus menyapa Anda! Maukah Anda menyediakan waktu untuk bergaul bersama Yesus di dalam doa? Waktu bersama Yesus dalam doa akan menjadi waktu yang sangat berguna. Anda akan diubah!
Dalam Mat 9:13 Yesus berkata, "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" . (Kus)
Televisi rupanya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Hampir setiap rumah mempunyai televisi. Televisi memang menjadi salah satu hiburan yang paling mudah kita peroleh. Banyak waktu kita habiskan dengan menonton televisi. Menurut survei, rata-rata orang Inggris menghabiskan sepertiga waktu terjaganya untuk nonton televisi. Orang Amerika dua kali lipat dari itu (John Storey 2007:11). Berapakah waktu yang Anda habiskan untuk menonton televisi? Anda bisa menghitungnya sendiri.
Menonton televisi bukanlah hal yang negatif. Banyak informasi dan pengetahuan dapat kita peroleh melalui tayangan televisi. Yang menjadi masalah adalah banyaknya waktu yang kita habiskan hanya untuk menonton acara-acara televisi. Seringkali lebih banyak waktu kita habiskan di depan televisi dari pada untuk melakukan hal yang lebih penting, seperti: bekerja, belajar, atau berdoa.
Dalam Injil hari ini kita mengenal pribadi Yesus yang mau bergaul dengan para pemungut cukai dan orang berdosa. la mau meluangkan waktu bagi orang berdosa agar mereka lebih mengenal-Nya, bertobat dan percaya kepada-Nya. la memang datang untuk memanggil orang berdosa (bdk. Mat 9:13). Panggilan ini ditanggapi oleh para pemungut cukai dan orang berdosa dengan datang kepada-Nya dan meluangkan waktu bergaul bersama-Nya. Pergaulan bersama Yesus mampu mengubah hidup mereka.
Yesus pun datang kepada kita orang berdosa. la menghendaki agar kita mengenal-Nya dan mau diubah oleh-Nya. Sayangnya, kita sering kurang menyediakan waktu untuk bergaul bersama Yesus dalam doa. Kita lebih senang menghabiskan banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk berdoa. Hari ini Yesus menyapa Anda! Maukah Anda menyediakan waktu untuk bergaul bersama Yesus di dalam doa? Waktu bersama Yesus dalam doa akan menjadi waktu yang sangat berguna. Anda akan diubah!
Dalam Mat 9:13 Yesus berkata, "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" . (Kus)
Wednesday, February 11, 2009
BAHAN RENUNGAN HARI KE-3
BAHAGIA
“Dengan cara mana aku mencari Engkau, ya Tuhan? Karena kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari kehidupan bahagia," tanya St. Agustinus kepada Tuhan dalam "Pengakuan"-nya. Melalui refleksi yang mendalam, Agustinus ingin mencari hidup bahagia di dalam Allah; dan ia telah mengambil langkah yang tepat. Sebab, "Kebahagiaan sejati tidak terletak dalam kekayaan dan kemakmuran, tidak dalam ketenaran dan kekuasaan, juga tidak dalam karya manusia - bagaimana pun juga nilainya seperti ilmu pengetahuan, teknik dan kesenian... tetapi hanya di dalam Allah "
(Katekismus Gereja Katolik, 1723).
Teknik pengambilan gambar dan kesenian yang menjadi hiburan di televisi, film khususnya, seolah telah menyajikan rasa bahagia bagi pemirsa. Padahal, apa yang dilihat mata di televisi tidak selalu berdasarkan fakta tetapi hasil rekayasa manusia. Akibatnya, setelah nonton film di televisi ada orang malah tidak bisa tidur, takut dan gelisah. Ia menjadi tidak bahagia.
Hidup bahagia dicari dan ditemukan bukan dalam sesuatu yang dapat dilihat tetapi di dalam Allah. Hidup bahagia dialami sebab orang percaya kepada Allah dan kepada Yesus, Putera-Nya yang telah wafat dan bangkit.
Rasul Tomas tidak mau percaya kalau tidak melihat sendiri Yesus yang menampakkan diri (Yoh 20:25b). Karena Tomas tidak melihat sendiri Yesus yang bangkit, ia menjadi tidak percaya. Tetapi, ketika delapan hari kemudian Yesus menampakkan diri di hadapan mereka semua, akhirnya ia menjadi percaya. Ia berseru, "Ya Tuhanku don Allahku" (ay 28).
Namun, Yesus berkata kepadanya, "Karena engkau telah melihat aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya"(ay 29). Sekiranya Tomas percaya ketika mendengar berita dari teman-temannya, ia sudah hidup bahagia. Satu minggu lamanya ia telah kehilangan kebahagiaan.
Banyak orang kehilangan kesempatan untuk hidup bahagia karena tidak percaya kepada Allah dan Putera-Nya. Bagaimana dengan Anda? Percaya adalah kunci hidup bahagia! (Arp)
“Dengan cara mana aku mencari Engkau, ya Tuhan? Karena kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari kehidupan bahagia," tanya St. Agustinus kepada Tuhan dalam "Pengakuan"-nya. Melalui refleksi yang mendalam, Agustinus ingin mencari hidup bahagia di dalam Allah; dan ia telah mengambil langkah yang tepat. Sebab, "Kebahagiaan sejati tidak terletak dalam kekayaan dan kemakmuran, tidak dalam ketenaran dan kekuasaan, juga tidak dalam karya manusia - bagaimana pun juga nilainya seperti ilmu pengetahuan, teknik dan kesenian... tetapi hanya di dalam Allah "
(Katekismus Gereja Katolik, 1723).
Teknik pengambilan gambar dan kesenian yang menjadi hiburan di televisi, film khususnya, seolah telah menyajikan rasa bahagia bagi pemirsa. Padahal, apa yang dilihat mata di televisi tidak selalu berdasarkan fakta tetapi hasil rekayasa manusia. Akibatnya, setelah nonton film di televisi ada orang malah tidak bisa tidur, takut dan gelisah. Ia menjadi tidak bahagia.
Hidup bahagia dicari dan ditemukan bukan dalam sesuatu yang dapat dilihat tetapi di dalam Allah. Hidup bahagia dialami sebab orang percaya kepada Allah dan kepada Yesus, Putera-Nya yang telah wafat dan bangkit.
Rasul Tomas tidak mau percaya kalau tidak melihat sendiri Yesus yang menampakkan diri (Yoh 20:25b). Karena Tomas tidak melihat sendiri Yesus yang bangkit, ia menjadi tidak percaya. Tetapi, ketika delapan hari kemudian Yesus menampakkan diri di hadapan mereka semua, akhirnya ia menjadi percaya. Ia berseru, "Ya Tuhanku don Allahku" (ay 28).
Namun, Yesus berkata kepadanya, "Karena engkau telah melihat aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya"(ay 29). Sekiranya Tomas percaya ketika mendengar berita dari teman-temannya, ia sudah hidup bahagia. Satu minggu lamanya ia telah kehilangan kebahagiaan.
Banyak orang kehilangan kesempatan untuk hidup bahagia karena tidak percaya kepada Allah dan Putera-Nya. Bagaimana dengan Anda? Percaya adalah kunci hidup bahagia! (Arp)
Tuesday, February 10, 2009
BAHAN RENUNGAN HARI KE-2
SEBELUM
Di sebuah peternakan, Babi dan Sapi tinggal berdampingan. "Mengapa tuan lebih sayang padamu?" keluh Babi suatu kali. “Ah masa sih, sepertinya kok biasa saja. Rasanya tuan kita memang baik, deh", jawab Sapi. "lya sih, tapi tuan selalu memandang sayang padamu, ia mengelusmu dan memberi rumput yang baik setelah ia memerah susumu, ia juga sering sekali memijitmu setelah kamu membajak sawahnya! Semuanya itu tak pernah ia berikan padaku", ujar Babi iri. "Mungkin benar, tuan sayang karena aku memberikan sesuatu untuknya pada saat aku masih hidup. Sementara kamu baru bisa memberi sesuatu, pada saat kamu sudah mati", kata Sapi.
Hidup adalah kesempatan berbagi kebaikan. Itulah pesan cerita sederhana di atas. Jika orang lebih suka mengumpulkan, hidup akan terasa hambar dan sia-sia. la tidak akan merasakan kepuasan hidup. Bahkan sudah mati sebelum waktunya. Itu juga kiranya pesan yangtersimpan dalam Injil hari ini.
Karena iblis, dua orang dari Gadara itu hidupnya terbelenggu dan lumpuh. Mereka tinggal dengan dunia mereka sendiri, dengan emosi, dan perasaan mereka. Hati mereka tertutup, jiwa mereka dikuasai kekuatan pikiran dan tindakan jahat. Mereka tinggal di pekuburan dan perilaku mereka memberi ancaman bagi orang lain. Itulah kehidupan yang seperti mati sebelum waktunya.
Kehidupan semacam itu pun kiranya bisa dialami manusia zaman ini. Barangkali situasinya berbeda dengan dua orang Gadara. Namun, sebenarnya menyimpan kondisi yang hampir sama. Dunia menyediakan tawaran yang menggiurkan kita. Aneka kemudahan, kesuksesan, hiburan, dan ketenaran silih berganti mengisi ruang baca, lihat, dan ruang dengar kita. Majalah, koran, TV dan radio silih berganti mempropagandakannya. Banyak orang menjadi stres dan putus asa karena besarnya obsesi dalam hidup.
Orang tua, muda, dan anak-anak pun takjarang memandang hidup ini sebagai kesempatan untuk mengejar kenikmatan semata. Hidup berbagi dan mencinta menjadi slogan belaka. Jangan biarkan hal seperti ini terjadi. Mulailah berbagi dan membuka diri. Jadikan Kristus kekuatan penyembuh egoisme dan cinta diri yang berlebihan. (Ddy)
Di sebuah peternakan, Babi dan Sapi tinggal berdampingan. "Mengapa tuan lebih sayang padamu?" keluh Babi suatu kali. “Ah masa sih, sepertinya kok biasa saja. Rasanya tuan kita memang baik, deh", jawab Sapi. "lya sih, tapi tuan selalu memandang sayang padamu, ia mengelusmu dan memberi rumput yang baik setelah ia memerah susumu, ia juga sering sekali memijitmu setelah kamu membajak sawahnya! Semuanya itu tak pernah ia berikan padaku", ujar Babi iri. "Mungkin benar, tuan sayang karena aku memberikan sesuatu untuknya pada saat aku masih hidup. Sementara kamu baru bisa memberi sesuatu, pada saat kamu sudah mati", kata Sapi.
Hidup adalah kesempatan berbagi kebaikan. Itulah pesan cerita sederhana di atas. Jika orang lebih suka mengumpulkan, hidup akan terasa hambar dan sia-sia. la tidak akan merasakan kepuasan hidup. Bahkan sudah mati sebelum waktunya. Itu juga kiranya pesan yangtersimpan dalam Injil hari ini.
Karena iblis, dua orang dari Gadara itu hidupnya terbelenggu dan lumpuh. Mereka tinggal dengan dunia mereka sendiri, dengan emosi, dan perasaan mereka. Hati mereka tertutup, jiwa mereka dikuasai kekuatan pikiran dan tindakan jahat. Mereka tinggal di pekuburan dan perilaku mereka memberi ancaman bagi orang lain. Itulah kehidupan yang seperti mati sebelum waktunya.
Kehidupan semacam itu pun kiranya bisa dialami manusia zaman ini. Barangkali situasinya berbeda dengan dua orang Gadara. Namun, sebenarnya menyimpan kondisi yang hampir sama. Dunia menyediakan tawaran yang menggiurkan kita. Aneka kemudahan, kesuksesan, hiburan, dan ketenaran silih berganti mengisi ruang baca, lihat, dan ruang dengar kita. Majalah, koran, TV dan radio silih berganti mempropagandakannya. Banyak orang menjadi stres dan putus asa karena besarnya obsesi dalam hidup.
Orang tua, muda, dan anak-anak pun takjarang memandang hidup ini sebagai kesempatan untuk mengejar kenikmatan semata. Hidup berbagi dan mencinta menjadi slogan belaka. Jangan biarkan hal seperti ini terjadi. Mulailah berbagi dan membuka diri. Jadikan Kristus kekuatan penyembuh egoisme dan cinta diri yang berlebihan. (Ddy)
Monday, February 9, 2009
BAHAN RENUNGAN HARI KE-1
BUKAN KEBETULAN
Riturgi sabda selama Minggu ini menyajikan Kitab Amos dan Injil Matius sebagai pokok dan dasar renungan bagi hidup kita. Nabi Amos termasuk nabi besar yang berjuang gigih mewartakan pesan Allah melawan orang-orang kaya yang menindas kaum miskin. Sedangkan Yesus menampilkan wujud Allah yang peduli kepada mereka yang berada dalam kesulitan.
Bukan kebetulan bahwa Tuhan memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya. Semua direncanakan-Nya dan mengandung konsekuensi besar. Mereka mesti hidup jujur dan adil di hadapan Tuhan. Namun mereka justru melanggar keadilan dan menginjak-injak kaum miskin. Maka Allah menghukum mereka. Para penguasa yang menindas kaum miskin dan lemah akan dilemparkan dari tahtanya.
Kini kita hidup dalam situasi yang sulit. Harga-harga bahan kebutuhan dasar melambung tinggi. Sementara sekelompok penguasa terus mempermainkan keadilan dan mengabaikan hak-hak rakyat. Bukan kebetulan bahwa negeri kita mengalami krisis lagi. Sebenarnya gejalanya dapat dikenali dan pencegahannya bisa dilakukan. Namun pemerintah sering menutup diri terhadap peringatan Tuhan. Ada bahaya rakyat akan marah dan menumbangkan pemerintah. Di zaman Amos, penguasa yang tidak adil ditumbangkan. Hal itu pun bisa terjadi saat ini di negeri kita.
Situasi demikian akan menimbulkan gelombang krisis dan kesulitan hidup. Semua serba tidak pasti. Kita bisa kehabisan akal seperti para murid yang hari ini perahunya diterpa badai dan angin taufan. Mereka tidak berdaya saat menghadapi kekuatan alam yang dahsyat. Namun tangan Tuhan selalu menolong mereka yang ada dalam kesulitan. Yesus menyertai mereka yang selalu menaruh harapan kepada-Nya.
Apapun yang terjadi, kehidupan mesti berlangsung terus. Apakah dalam menghadapi kesulitan hidup kita habis akal seperti para murid? Atau membiarkan Yesus menjadi penolong kita? Bukankah Sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa tangan Allah sedang bekerja? (Aja)
Riturgi sabda selama Minggu ini menyajikan Kitab Amos dan Injil Matius sebagai pokok dan dasar renungan bagi hidup kita. Nabi Amos termasuk nabi besar yang berjuang gigih mewartakan pesan Allah melawan orang-orang kaya yang menindas kaum miskin. Sedangkan Yesus menampilkan wujud Allah yang peduli kepada mereka yang berada dalam kesulitan.
Bukan kebetulan bahwa Tuhan memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya. Semua direncanakan-Nya dan mengandung konsekuensi besar. Mereka mesti hidup jujur dan adil di hadapan Tuhan. Namun mereka justru melanggar keadilan dan menginjak-injak kaum miskin. Maka Allah menghukum mereka. Para penguasa yang menindas kaum miskin dan lemah akan dilemparkan dari tahtanya.
Kini kita hidup dalam situasi yang sulit. Harga-harga bahan kebutuhan dasar melambung tinggi. Sementara sekelompok penguasa terus mempermainkan keadilan dan mengabaikan hak-hak rakyat. Bukan kebetulan bahwa negeri kita mengalami krisis lagi. Sebenarnya gejalanya dapat dikenali dan pencegahannya bisa dilakukan. Namun pemerintah sering menutup diri terhadap peringatan Tuhan. Ada bahaya rakyat akan marah dan menumbangkan pemerintah. Di zaman Amos, penguasa yang tidak adil ditumbangkan. Hal itu pun bisa terjadi saat ini di negeri kita.
Situasi demikian akan menimbulkan gelombang krisis dan kesulitan hidup. Semua serba tidak pasti. Kita bisa kehabisan akal seperti para murid yang hari ini perahunya diterpa badai dan angin taufan. Mereka tidak berdaya saat menghadapi kekuatan alam yang dahsyat. Namun tangan Tuhan selalu menolong mereka yang ada dalam kesulitan. Yesus menyertai mereka yang selalu menaruh harapan kepada-Nya.
Apapun yang terjadi, kehidupan mesti berlangsung terus. Apakah dalam menghadapi kesulitan hidup kita habis akal seperti para murid? Atau membiarkan Yesus menjadi penolong kita? Bukankah Sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa tangan Allah sedang bekerja? (Aja)
Subscribe to:
Posts (Atom)
